Konsultasi: Usia 16 Tahun 15 Kali Pacaran

Posted: March 21, 2008 in Catatan Harian

Oleh Leila Ch Budiman

Kasus:
“Dear Ibu Leila, saya gadis remaja 16 tahun di SMA, to the point ya Bu. Saya sudah lima belas kali pacaran, tetapi selama 15 kali itu penuh kepura-puraan. Misalnya, ada pria yang suka pada saya, tetapi saya tidak suka. Meskipun begitu, saya pura-pura suka. Semua teman-teman pun menganjurkan saya menerima dia. Mereka bilang, “Sudah, mengalah saja. Susah lho cari pria kayak dia. Dia cakep, kaya, perhatian, sayang, bla…. bla…. bla…!” Bahkan, mama dan tante pun setuju. Tetapi sebab mereka terlalu sering mengatakan begitu, saya jadi tidak tahan, bosan betul, sampai akhirnya saya putuskan. Memangnya saya apa? Apa saya selalu harus nurut pada laki-laki yang suka pada saya? Terjadi juga hal yang sebaliknya. Pria yang saya sukai pun kelihatannya membalas perhatian saya. Tetapi akhirnya dia tidak minat lagi pada saya. Dia bilang cuma pura-pura sayang. Akhirnya putus juga. Ini sangat menyedihkan saya, sampai saya sukar belajar. Bu, saya bingung apa ini yang disebut cinta dewasa, cinta yang banyak pengorbanannya? Meskipun tidak suka harus pura-pura suka? Saya jadi takut dengan cinta semacam itu. Takut nasibnya seperti tante dan saudara lain yang perkawinannya berantakan, disia-siakan suami. Saya merasa tidak ada gunanya berumah tangga kelak. Saya tidak mau hidup dan hati saya hancur seperti mereka. Tolong bimbing saya Bu”

(Denis, Jkt)


Jawab:

Denis manis, tentu membingungkan sekali kalau hidup penuh kepura-puraan. Jika adik suka berpura-pura, adik jadi tersiksa. Juga jadi tidak percaya pada orang lain. Tiap kali Anda jadi ragu, apa kebaikan dan rasa sayang yang diperlihatkan orang itu murni atau tidak? Apa itu cuma kedok saja? Juga hidup jadi tertekan.
Misalnya, adik tidak suka ikan. Ketika Doi, si penggemar udang dan ikan bertanya, “Suka sea food ?” Anda mengangguk, pura-pura suka untuk menyenangkan dia. Akhirnya Anda akan tersiksa sendiri di restoran sea food, menghadapi setumpuk ikan…… Jika terus berpura-pura, Anda akan semakin tersiksa menelan “ikan” yang tidak Anda sukai, sangat menyebalkan dan tidak sehat.

rely-on-you.jpg

Apalagi harus membangun rencana yang dasarnya kepura-puraan alias kebohongan. Bangunan sahebat apapun kalau dasarnya rapuh, akan roboh berantakan juga. Perlu sekali kejujuran, tentu saja juga dalam mencari pendamping.
Lagi pula kan tidak perlu “semua” pria dibalas cintanya. Bayangkan betapa berabenya kalau ada sepuluh atau lima puluh orang yang naksir pada Anda? Apakah semuanya harus dilayani? Wuah sibuk benar nih. Salah-salah nanti bisa jadi “piala bergilir”.
Yang naksir pun belum tentu ingin serius. Jadi, santai saja, tidak usah GR atau benci. Paling aman adalah bersikap biasa, seperti teman. Kalau ia mendesak terus, katakan saja bahwa Anda belum berminat cari pendamping.

Menjadi “serius” selama belasan tahun memang riskan, sebab masih banyak nilai-nilai yang akan berubah. Misalnya, belasan tahun masih sangat mementingkan keindahan jasmani, lalu kelak lebih mementingkan keindahan rohani, alias kebaikan kepribadiannya. Kalau dulu yang ditanya mobilnya apa? Nanti yang ditanya pendidikannya apa?
Nah Denis, santai saja ya, yang lebih cocok mungkin masih menunggumu di fakultas….!
(majalah tentang psikologi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s