Juan Manuel Mata Garcia

Posted: March 16, 2008 in Profil

Melihat trayek karier serta pencapaiannya di level junior yang tergolong mengkilap, mungkin kita akan langsung memaklumi keberhasilan Juan Mata dalam menerobos tim inti Valencia saat ini. Tapi, percayalah, jalan Mata tidak semulus itu.

Jalan lapang saat menapaki jenjang dari Cadet hingga Juvenil sampai berkiprah di Segunda A dengan ponten cemerlang tak lantas membuat Mata mendapat prioritas di tim senior. Real Madrid, klub yang dibela sejak ia berusia 15 tahun, ternyata tak butuh jasanya.

Padahal, Madrid Juvenil (U-18) dibawanya menjadi juara liga 2005/06. Masih di musim yang sama, pemilik nama lengkap Juan Manuel Mata Garcia ini juga berhasil mengemas total 18 gol di liga, ditambah masing-masing tiga gol di Copa de Campeones dan Juvenil Cup.

Ketika merumput di Segunda A bersama tim Madrid B di musim 06/07, bocah yang saat ini berusia 19 tahun itu pun sangat tajam. Total 10 gol dikumpulkan dalam 40 laga. Jumlah ini hanya kalah dari Alvaro Negredo, rekan setimnya yang menorehkan 18 gol.mata.jpg

Berbekal catatan apik ini, Mata cukup yakin menatap musim 07/08. “Impian saya sejak kecil adalah bermain di Real Madrid. Tampil di Santiago Bernabeu bareng pemain-pemain terbaik dunia, di hadapan publik fanatik ibu kota, tentu sangat membanggakan,” ungkap Mata.

Meskipun lahir dan besar di Burgos lalu kemudian masuk akademi Real Oviedo, yang merupakan klub ayahnya bermain, Madrid selalu ada pada daftar teratas pilihan Mata. Kehadiran megabintang macam Luis Figo, David Beckham, dan Zinedine Zidane adalah alasan utamanya.

Apa lacur, di mata Bernd Schuster, kecintaan besar Mata terhadap Madrid, ditambah rekor impresif di Madrid B, bukanlah ukuran baku. Pelatih Madrid senior ini, yang biasanya suka mengandalkan legiun muda, justru langsung menutup pintu promosi bagi para personel Madrid B.

Bisa jadi, meski sukses menetaskan individu jempolan termasuk Mata, Negredo, Ruben de La Red, dan Javi Garcia, hasil di mana akhirnya Madrid B terdegradasi ke Segunda B, dipakai sebagai acuan tunggal Schuster. Buktinya, kuartet ini tak dipanggil, malah dilepas.

Tawaran Valencia

Mendapati nasib yang tak jelas bersama Madrid, Mata tak punya pilihan selain mengubur mimpi masa kecilnya. Wajar saat Valencia datang menawarkan kerja sama, tanpa pikir panjang Mata pun mengiyakan kontrak berdurasi lima tahun dari kubu Mestalla tersebut.

“Untuk sementara waktu, saya harus menangguhkan mimpi debut dengan Los Galacticos. Mestalla datang untuk memberikan kesempatan. Tentu peluang seperti ini tak boleh saya hiraukan begitu saja. Saya harap bisa berkontribusi maksimal pada musim pertama ini,” kata Mata lagi.

Baru bertukar status kepemilikan, isu tak sedap langsung menimpa Mata. Tujuh penyerang yang sudah ada di Mestalla memaksa manajemen Los Ches mencari klub baru untuk Mata guna diberi label on-loan. Getafe, Racing Santander, dan Real Zaragoza terlihat paling getol.

Akan tetapi, pada saat-saat terakhir menjelang pembukaan musim 07/08 ini, Quique Sanchez Flores, pelatih Valencia kala itu, memutuskan untuk menahan Mata. Kesempatan seperti yang dijanjikan tatkala meneken kontrak pun diberikan. Mata masuk skuad inti Ches di jornada 2.

Sayang, Mata dianggap tak lolos uji kelayakan. Ia tak lagi dipercaya tampil. Dalam 5 jornada berikut cuma sekali Mata masuk lapangan, itu pun sebagai pengganti. Menjelang transfer window II, rencana peminjaman pun menyeruak. Direktur Olahraga Miguel Angel Ruiz dengan tegas menyatakan bakal merampingkan skuad.

Faktor Koeman

Dengan pasrah Mata pun harus kembali melalui fase sulit. Bahkan, secara jujur ia mengaku siap pindah jika memang itulah jalan yang terbaik. Takdir berbicara sebaliknya. Ronald Koeman, yang datang menggantikan kursi Quique, melihat potensi terselubung pada diri Mata.

Jika tidak, rasanya mustahil Koeman terus memasangnya di setiap partai berturut-turut sejak 11 Desember. “Pelatih meminta saya untuk bermain dengan kemampuan terbaik di setiap partai. Saya bersyukur jika ternyata sumbangsih saya masuk kategori memuaskan,” ucap Mata soal Koeman.

Walaupun jabatan aslinya semasa di tim junior adalah second striker, Koeman menilai Mata lebih pantas menyisir sisi kiri lapangan. Naluri sang entrenador memang tepat. Mata kini resmi menghuni sayap kiri Ches, yang semula diisi David Silva dan Vicente Rodriguez.

Di pos barunya itu, Mata terbukti mampu menghidupkan kembali sisi kiri Ches yang mulai redup belakangan ini. Semakin hari kualitas lelaki yang punya hobi bermain tenis meja ini pun kian meningkat. Tiga gol berhasil ia sarangkan dalam enam jornada terakhir.

Mata pun berandil besar dalam mengantar Ches ke semifinal Copa del Rey. Para pakar sepakbola Spanyol menilai Mata punya segudang kelebihan di usianya yang terbilang masih hijau ini. Kendati kaki favoritnya adalah kiri, Mata juga piawai memanfaatkan kaki kanan.

Kecepatan serta akselerasi adalah kelebihan lain Mata. Pada posisi terjepit, Mata mampu berpikir sepersekian detik lebih cepat dari lawan untuk melepas umpan atau menembak langsung. Ini membuat lawan kerap kecele dalam menebak pergerakannya.

DATA DIRI
———————-
Nama Lengkap: Juan Manuel Mata Garcia
Lahir: 28 April 1988 di Burgos, Spanyol (19 tahun)
Postur: 170 cm/63 kg
(bolanews.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s